<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Program Studi Arsitektur</title>
<link href="https://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/113" rel="alternate"/>
<subtitle>Koleksi Skripsi Mahasiswa Program Studi Arsitektur Strata Satu (S1)</subtitle>
<id>https://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/113</id>
<updated>2026-06-17T18:36:46Z</updated>
<dc:date>2026-06-17T18:36:46Z</dc:date>
<entry>
<title>Perancangan Museum Kereta Api Bondowoso dengan Konsep Reuse Bangunan Terbengkalai dengan Pendekatan Arsitektur Hijau</title>
<link href="https://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/903" rel="alternate"/>
<author>
<name>Maulidiyah, Khotmah Dzikro</name>
</author>
<id>https://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/903</id>
<updated>2026-05-11T14:09:15Z</updated>
<published>2025-08-22T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Perancangan Museum Kereta Api Bondowoso dengan Konsep Reuse Bangunan Terbengkalai dengan Pendekatan Arsitektur Hijau
Maulidiyah, Khotmah Dzikro
Bondowoso memiliki sejarah penting dalam perkeretaapian Jawa Timur, salah satunya melalui bangunan stasiun peninggalan kolonial yang kini terbengkalai. Kondisi tersebut menyebabkan nilai sejarah dan potensi kawasan belum dimanfaatkan secara optimal. Untuk itu, dirancang Museum Kereta Api Bondowoso sebagai upaya revitalisasi yang berfungsi sebagai sarana edukasi, rekreasi, sekaligus pelestarian budaya. Perancangan menggunakan konsep reuse bangunan terbengkalai dengan pendekatan arsitektur hijau. Tujuannya adalah mengurangi limbah konstruksi, mempertahankan identitas arsitektur kolonial, serta menghadirkan bangunan yang hemat energi dan ramah lingkungan. Strategi desain yang diterapkan meliputi pemanfaatan kembali struktur lama, penggunaan material eksisting, optimalisasi pencahayaan dan penghawaan alami, serta penambahan vegetasi untuk mendukung kenyamanan ruang. Hasil perancangan menghadirkan museum dengan zonasi utama berupa ruang pamer koleksi kereta api, ruang edukasi, area publik, dan peron sebagai ruang display terbuka. Desain menggabungkan karakter kolonial dengan prinsip arsitektur hijau sehingga tercipta bangunan yang fungsional, berkelanjutan, dan tetap menjaga nilai sejarah. Museum ini diharapkan dapat menjadi media pelestarian, pusat edukasi transportasi, sekaligus destinasi wisata baru bagi masyarakat.
</summary>
<dc:date>2025-08-22T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Perancangan Pusat Budaya dengan Konsep Arsitektur Tradisional Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi</title>
<link href="https://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/453" rel="alternate"/>
<author>
<name>Amaniyah, Raudatul</name>
</author>
<id>https://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/453</id>
<updated>2026-01-09T18:25:50Z</updated>
<published>2025-08-21T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Perancangan Pusat Budaya dengan Konsep Arsitektur Tradisional Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi
Amaniyah, Raudatul
Perancangan Pusat Budaya Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi bertujuan untuk mewadahi pelestarian, edukasi, dan pengembangan seni-budaya masyarakat Osing yang mulai tergerus modernisasi. Kehadiran pusat budaya ini diharapkan menjadi ruang interaksi yang mampu memperkenalkan kekayaan tradisi Osing sekaligus menarik minat wisatawan. Metode perancangan yang digunakan adalah pendekatan arsitektur tradisional Osing dengan mempertimbangkan nilai-nilai lokal, filosofi ruang, serta kondisi lingkungan. Proses analisis meliputi studi literatur, observasi lapangan, dan kajian budaya untuk memperoleh konsep desain yang sesuai dengan identitas masyarakat setempat. Hasil rancangan menghadirkan pusat budaya dengan fasilitas utama berupa ruang pertunjukan indoor dan outdoor, galeri, ruang edukasi, ruang kuliner, serta area penunjang lainnya. Konsep tata ruang mengutamakan keterbukaan, keberlanjutan, dan kearifan lokal yang tercermin dalam bentuk bangunan, pemilihan material, dan pola sirkulasi. Secara keseluruhan, perancangan ini menghasilkan pusat budaya yang berfungsi sebagai sarana pelestarian dan promosi budaya Osing, serta berpotensi menjadi destinasi wisata budaya yang memperkuat identitas lokal dan memberi manfaat bagi masyarakat Banyuwangi.
</summary>
<dc:date>2025-08-21T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Perancangan Pelabuhan Wisata dengan Konsep Arsitektur Neo-Vernakular di Pelabuhan Jangkar Situbondo</title>
<link href="https://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/451" rel="alternate"/>
<author>
<name>Royhan, Muhammad</name>
</author>
<id>https://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/451</id>
<updated>2026-01-09T18:17:04Z</updated>
<published>2025-08-16T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Perancangan Pelabuhan Wisata dengan Konsep Arsitektur Neo-Vernakular di Pelabuhan Jangkar Situbondo
Royhan, Muhammad
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi kelautan yang sangat besar, baik dari segi sumber daya alam maupun konektivitas antarwilayah. Pelabuhan sebagai sarana transportasi laut memegang peranan vital dalam mendukung mobilitas masyarakat serta pertumbuhan ekonomi wilayah, termasuk sektor pariwisata. Pelabuhan Jangkar di Kabupaten Situbondo merupakan salah satu pelabuhan strategis yang menghubungkan Pulau Jawa, Madura, hingga Lombok. Meskipun memiliki potensi besar, pelabuhan ini belum dimanfaatkan secara optimal sebagai destinasi wisata. Padahal, jumlah kunjungan wisatawan ke Situbondo terus meningkat dari tahun ke tahun. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan upaya perancangan pelabuhan dengan penambahan fungsi wisata tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai sarana transportasi. Pendekatan arsitektur neo vernakular dipilih sebagai konsep desain, dengan mengadaptasi elemen budaya lokal Situbondo yang dikombinasikan dengan teknologi modern. Konsep ini diharapkan mampu menciptakan ruang publik yang fungsional, estetik, dan mencerminkan identitas lokal. Perancangan Pelabuhan Jangkar dengan pendekatan arsitektur neo vernakular diharapkan dapat meningkatkan daya tarik wisata, memperkuat identitas budaya daerah, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.
</summary>
<dc:date>2025-08-16T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Penerapan Konsep Green Architecture pada Perancangan Puskesmas Lingsar Lombok Barat</title>
<link href="https://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/450" rel="alternate"/>
<author>
<name>Hadi, Fauzan</name>
</author>
<id>https://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/450</id>
<updated>2026-01-09T17:59:44Z</updated>
<published>2025-08-16T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Penerapan Konsep Green Architecture pada Perancangan Puskesmas Lingsar Lombok Barat
Hadi, Fauzan
Perkembangan fasilitas pelayanan kesehatan yang berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan urbanisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan konsep Green Architecture pada perancangan Puskesmas Lingsar di Lombok Barat sebagai upaya menciptakan bangunan yang ramah lingkungan, hemat energi, dan mendukung kenyamanan pengguna. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatifdeskriptif dengan studi literatur, analisis tapak, serta perbandingan standar perancangan puskesmas dan prinsip arsitektur hijau. Hasil perancangan menunjukkan bahwa penerapan elemen-elemen seperti ventilasi alami, pencahayaan alami, penggunaan material lokal ramah lingkungan, sistem pengelolaan air hujan, serta integrasi ruang terbuka hijau, dapat meningkatkan efisiensi energi dan kualitas lingkungan dalam puskesmas. Dengan penerapan konsep ini, diharapkan Puskesmas Lingsar mampu menjadi prototipe fasilitas kesehatan yang tidak hanya fungsional, tetapi juga berkelanjutan secara ekologis.
</summary>
<dc:date>2025-08-16T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
