<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Program Studi Budidaya Perikanan</title>
<link href="http://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/122" rel="alternate"/>
<subtitle>Koleksi Skripsi Mahasiswa Program Studi Budidaya Perikanan Diploma Tiga (D3)</subtitle>
<id>http://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/122</id>
<updated>2026-04-30T19:51:56Z</updated>
<dc:date>2026-04-30T19:51:56Z</dc:date>
<entry>
<title>Teknik Pembesaran Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) pada Kolam Terpal HDPE di Unit Pelaksana Teknis Perikanan Budidaya Air Tawar/Air Payau (UPT PBATAP) Situbondo</title>
<link href="http://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/486" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sahori, Sofyan</name>
</author>
<id>http://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/486</id>
<updated>2026-01-10T07:31:11Z</updated>
<published>2025-08-25T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Teknik Pembesaran Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) pada Kolam Terpal HDPE di Unit Pelaksana Teknis Perikanan Budidaya Air Tawar/Air Payau (UPT PBATAP) Situbondo
Sahori, Sofyan
Udang Vaname merupakan salah satu komoditas perikanan yang banyak diminati pada saat ini oleh masyarakat indonesia karena pemeliharaannya yang mudah dan cepat sehingga dapat memperoleh profit yang sangat menguntungkan bagi pembudidaya atau petambak. Udang Vaname termasuk yang paling gampang dibudidayakan dari pada jenis crustacea yang lain. Hal itu yang menyebabkan petambak khususnya di tanah air yang banyak membudidayakan udang Vaname, karna semakin banyak petambak oleh sebab itu diperlukanlah prosedur yang layak untuk membudidayakannya. Maka karna hal tersebut perlu adanya pengetahuan dan wawasan yang lebih mendalam tentang budidaya udang Vaname.&#13;
 Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan mulai tanggal 12 November – 13 Januari 2025 yang bertempat di UPT BPATAP Gelung Panarukan Situbondo. Tujuan dan manfaat PKL adalah untuk mempelajari teknik-teknik serta meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam bidang budidaya perikanan, terutama pada pembesaran udang Vaname. Metode yang diterapkan dalam Praktik Kerja Lapang ini adalah metode survei dengan teknik pengumpulan data yang mencakup data primer dan data sekunvder melalui observasi, wawancara, partisipasi dan studi pustaka. &#13;
Persiapan tambak merupakan langkah awal untuk memulai siklus budidaya udang Vaname. Persiapan ini mencakup pengeringan tambak, pembersihan kincir dan petak tambak. perbaikan petak tambak, kincir, dan plastik HDPE, serta pemasangan sarana produksi tambak. Setelah persiapan tambak selesai, dilakukan persiapan media dengan pengisian air, pengapuran, dan pemberian probiotik. Penebaran benur dilakukan setelah persiapan media selesai., yang melibatkan pemilihan benur, aklimatisasi dan waktu penebaran. Luas tambak yang digunakan ix untuk pembesaran udang Vaname adalah 1600 meter persegi, dengan kepadatan penebaran benur sebanyak 200.000 ekor. Manajemen pakan dilakukan dengan dua metode: program pakan blind feeding (DOC 1-30) dan program pakan berdasarkan index (DOC 31 – panen). Teknik pemberian pakan terdiri dari dua cara, yaitu secara manual (DOC 1-30) dan menggunakan mesin automatich feeder (DOC 31 – panen). Pengelolaan kualitas air meliputi pengamatan parameter kualitas air, pergantian air, perlakuan air dan proses penyponan. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menerapkan biosecurity dan SOP pembesaran (UPT PBATAP) Namun, di pertengan masa budidaya udang terjangkit virus IMNV (Infectious Myonecrosis Virus).
</summary>
<dc:date>2025-08-25T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Teknik Pembenihan Ikan Lele (Clarias gariepinus) di Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Banyuwangi</title>
<link href="http://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/485" rel="alternate"/>
<author>
<name>Afthoni, Sahrul</name>
</author>
<id>http://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/485</id>
<updated>2026-01-10T07:28:18Z</updated>
<published>2025-08-03T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Teknik Pembenihan Ikan Lele (Clarias gariepinus) di Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Banyuwangi
Afthoni, Sahrul
Pembenihan Ikan lele (Clarias gariepinus) merupakan tahap krusial dalam kegiatan budidaya untuk menjamin ketersediaan benih yang berkualitas.. Tujuan dari Praktik Kerja Lapang (PKL) ini adalah mengetahui secara langsung Teknik Pembenihan Ikan Lele (Clarias gariepinus), di Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Banyuwangi. Kegiatan PKL dilakukan tanggal 12 November 2024 sampai 13 Januari 2025. dengan metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan partisipasi. Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Banyuwangi telah mengembangkan teknik pembenihan yang efektif meliputi pemeliharaan induk, seleksi induk, pemijahan, penetasan telur, dan pemeliharaan larva. Induk jantan dan betina dipelihara dalam kolam yang berbeda dengan kepadatan 2-3 ekor/m2 , diberi pakan pelet yang tinggi akan kandungan protein (30-35%) untuk melaju kematangan gonad. Seleksi induk dilakukan berdasarkan kriteria fisik kematangan gonad dengan memilih betina berperut besar dan lunak sedangkan jantan memiliki kelamin berwarna merah serta kondisi sehat dan aktif. Pemijahan dilakukan secara alami (Natural spawning) menggunakan media bak viber ber ukuran panjang 110 Cm, lebar 80 Cm, dan tinggi 50 Cm dengan substrat kakaban untuk menempelkan telur. Setelah proses pemijahan induk dipisahkan agar mencegah kanibalisme. Penetasan telur berlangsung selama 24–36 jam pada suhu 28–30°C. Larva dipelihara dalam bak terkontrol dengan kepadatan 500– 700 ekor/m³ dan pemberian pakan alami (Cacing sutra) serta pakan buatan berbasis protein tinggi. Manajemen kualitas air meliputi parameter pH (6,5–8), oksigen terlarut (≥5 mg/L), dan kualitas suhu (28o – 31o C). Untuk menanggulangi hama dan penyakit dilakukan pemberian probiotik berupa larutan air garam dan larutan air daun pepaya dengan dosis 2,5 liter. Setelah usia 20 hari benih ikan lele dilakukan pemanenan untuk dipindah kekolam pendederan
</summary>
<dc:date>2025-08-03T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Teknik Pembesaran Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) di Kolam Bundar dengan Sistem Probiotik di Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Bangsring Banyuwangi</title>
<link href="http://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/484" rel="alternate"/>
<author>
<name>Maulana Ishak, Bayu</name>
</author>
<id>http://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/484</id>
<updated>2026-01-10T07:27:59Z</updated>
<published>2025-08-22T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Teknik Pembesaran Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) di Kolam Bundar dengan Sistem Probiotik di Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Bangsring Banyuwangi
Maulana Ishak, Bayu
Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) adalah salah satu jenis ikan air tawar yang sangat populer dalam budidaya komersial di Indonesia. Selain dagingnya yang lezat dan harga yang terjangkau, ikan ini menawarkan potensi besar untuk pengembangan lebih lanjut di sektor perikanan. Keunggulan utama Ikan Lele Dumbo adalah kemudahan pemeliharaan dan kemampuannya untuk beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan budidaya, membuatnya sangat disukai oleh masyarakat Indonesi. Tujuan dari Praktik Kerja Lapang (PKL) ini adalah mengetahui secara langsung Teknik Pembesaran Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus), Secara Probiotik di BPPP Bangsring Banyuwangi Jawa Timur. Kegiatan PKL dilakukan tanggal 11 November 2024 sampai 13 Januari 2025. Dengan metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan partisipasi. Persiapan media kolam meliputi pengeringan, pengelolaan dasar wadah, dan pengisian air untuk mendeteksi kebocoran. Penebaran Benih Ikan Lele dilakukan pada pagi dan sore hari untuk mengurangi stres, dengan jumlah benih yang di tebar 2,500 ekor dengan luas kolam diameter 3 meter dengan kepadatan tebar 353 ekor/M3 . Manajemen pakan di BPPP Bangsring, menggunakan pakan komersil dengan kandungan protein 32,0%. Parameter kualitas air menunjukkan kisaran suhu pagi mencapai 29oC, Sedangkan nilai pH yang tercatat adalah 7.3. Proses panen Ikan Lele dapat dilakukan secara parsial atau total, dengan panen parsial berdasarkan ukuran ikan yang layak konsumsi, umumnya ukuran 10-12 ekor per kilogram.
</summary>
<dc:date>2025-08-22T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Teknik Pendederan Ikan Kerapu Cantang (Epinephelus fuscoguttatus x Epinephelus lanceolatus) di Hatchery Gelung Mas Situbondo</title>
<link href="http://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/483" rel="alternate"/>
<author>
<name>Malana, Zaka</name>
</author>
<id>http://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/483</id>
<updated>2026-01-10T07:27:38Z</updated>
<published>2025-08-08T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Teknik Pendederan Ikan Kerapu Cantang (Epinephelus fuscoguttatus x Epinephelus lanceolatus) di Hatchery Gelung Mas Situbondo
Malana, Zaka
Keberadaan ikan Kerapu Cantang di alam sangat terbatas dan bahkan tidak dapat ditemukan. Proses pembenihan Kerapu Cantang umumnya dilakukan hingga benih mencapai ukuran 2,5-3 cm. Namun, para petambak yang menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA) memerlukan benih yang berukuran di atas 10 cm. Hal ini karena penggunaan benih berukuran di bawah 10 cm memiliki tingkat kelangsungan hidup (SR) yang rendah. Oleh karena itu, diperlukan subsektor tertentu yaitu pendederan yang melakukan pembesaran benih dari ukuran 2,5-3 cm sehingga mencapai 10 cm atau lebih.&#13;
 Dalam kegiatan Praktik Kerja Lapang ini, metode yang diterapkan adalah metode deskriptif. Metode ini dilaksanakan dengan mengamati aktivitas di lapangan untuk kemudian menarik kesimpulan melalui perbandingan antara fakta yang ditemukan di lapangan dengan referensi yang tersedia dalam literatur. Metode ini bisa digunakan untuk mendeskripsikan keadaan tertentu saja, atau juga untuk mendeskripsikan keadaan dalam tahapan perkembangan. Metode ini tidak dapat dimanipulasi atau terjadi variabel tertentu, karena pada metode ini menggambarkan suatu kondisi yang sesunguhnya di lapangan. &#13;
Hal terpenting dalam kegiatan pendederan ikan kerapu cantang adalah persiapan wadah budidaya atau kolam. Tahapan kegiatan pendederan meliputi persiapan bak atau wadah budidaya, sirkulasi air, suplai oksigen, pemberian pakan, penanggulangan penyakit, grading, dan panen. Berdasarkan pengalaman Praktik Kerja Lapang di Hatchery Gelung Mas, dapat disimpulkan bahwa proses pendederan benih Kerapu Cantang (Ephinephelus fuscoguttatus x Ephinephelus lanceolatus) mencakup beberapa tahapan penting, yaitu persiapan bak atau wadah budidaya, seleksi benih saat penebaran, pengaturan pakan, pengelolaan kualitas air, upaya pencegahan penyakit, kegiatan grading, serta proses panen.
</summary>
<dc:date>2025-08-08T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
