<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Fakultas Ilmu Kesehatan</title>
<link>http://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/31</link>
<description>Koleksi Skripsi Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan</description>
<pubDate>Thu, 30 Apr 2026 19:57:38 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-30T19:57:38Z</dc:date>
<item>
<title>Kajian Penambatan Molekuler Kandungan Kimia Ciplukan (Physalis Angulata) sebagai Antituberkulosis serta Prediksi Parameter Farmakokinetik dan Toksisitas</title>
<link>http://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/270</link>
<description>Kajian Penambatan Molekuler Kandungan Kimia Ciplukan (Physalis Angulata) sebagai Antituberkulosis serta Prediksi Parameter Farmakokinetik dan Toksisitas
Diana Kholidah, Nur
Resistensi bakteri Mycobacterium tuberculosis pada pengobatan penyakit tuberkulosis dikarenakan mutasi genetik tertentu menjadi masalah dalam dunia Kesehatan, sehingga perlu dilakukannya pengembangan obat baru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interaksi aktivitas senyawa potensial pada tanaman ciplukan terhadap protein target tuberkulosis yaitu Anthranilate phosphoribosyl transferase (trpD) (PDB ID : 3R6C) dan Enoyl - (acyl-carrier-protein) reductase (nadh) (PDB ID: 5G0S). Sebanyak 49 kandungan kimia tanaman ciplukan dilakukan skrining aktivitas dengan webform way2drug dan superpred, sehingga mendapatkan 10 senyawa terpilih dan dilakukan docking molekuler dengan Autodock Tools 4.2. Tiga senyawa terbaik berdasarkan nilai ∆G terendah pada masing-masing makromolekul di visualisasi dengan discovery studio, dilanjutkan dengan prediksi farmakokinetik (absorbsi, distribusi, metabolisme, ekresi) dan drug likeness menggunakan webfrom SwissADME, serta prediksi toksisitas dengan aplikasi toxtree. Hasil docking molekuler memperlihatkan ∆G dari rentang -10,81 sampai -6,16 kkal/mol, sehingga mendapatkan senyawa terbaik yaitu physanolide A, physagulin H, physagulin C, withangulatin A, dan withangulatin I yang memiliki ∆G secara berurutan yaitu -9,48, -9,96, -9,13, -9,85, dan -10,81 kkal/mol dengan memiliki kesamaan residu asam amino dengan native ligan yaitu ASN138, TYR158, ALA179, DAN PRO99. Senyawa terbaik memperlihatkan absorbsi yang baik di gastrointestinal dengan Bioavailabilitas yang baik, tidak terdistribusi ke dalam jaringan otak dan termasuk substrat P-gp, dan tidak berperan dalam beberapa macam inhibitor enzim sitokrom P450. 4 senyawa terbaik selain physanolide A memiliki toksisitas berdasarkan parameter verhaar scame masuk kelas III, kroes TTC kelas II, dan memiliki sifat karsinogenik, dan pada parameter cramer rules seluruh senyawa masuk dalam kelas III. Senyawa physanolide A masuk dalam kelas V pada verhar scame, kelas I pada kroes TTC, dan tidak memiliki sifat karsinogenik. Oleh karna itu, senyawa yang dapat menjadi kandidat obat baru antituberkulosis yang memiliki farmakokinetik yang baik dan toksisitas yang relatif aman adalah physanolide A.
</description>
<pubDate>Sat, 13 Jul 2024 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/270</guid>
<dc:date>2024-07-13T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Lama Pengadukan Terhadap Formulasi dan Aktivitas Antibakteri Mikrokapsul Daun Ceiba Petandra L.</title>
<link>http://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/269</link>
<description>Pengaruh Lama Pengadukan Terhadap Formulasi dan Aktivitas Antibakteri Mikrokapsul Daun Ceiba Petandra L.
Shalihah, Mutmainnatus
Daun Ceiba pendra L. mengandung senyawa kimia yaitu flavonloid, alkaloid, tannin, saponin dan polifenol. Senyawa-senyawa tersebut bersifat tidak stabil akibat pengaruh suhu, proses pengolahan dan penyimpanan. Maka dari itu dilakukan mikroenkapsulasi untuk mempertahankan aktivitas senyawa dalam daun Kapuk Randu ini. Mikroenkapsulasi dapat dipengaruhi oleh faktor lama pengadukan, kecepatan pengadukan, konsentrasi bahan penyalut dan bahan inti serta jenis bahan penyalut. Untuk itu dilakukan penelitian dengan tujuan menganalisis pengaruh lama pengadukan terhadap formulasi dan aktivitas antibakteri mikrokapsul daun kapuk. Simplisia daun kapuk randu diekstrak dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Mikroenkapsulasi dilakukan dengan metode freeze drying menggunakan bahan penyalut gum arab sebanyak 1% dan ekstrak sebanyak 1% dengan variasi waktu pengadukan F1 60 menit, F2 90 menit, dan F3 120 menit. Selanjutnya, dilakukan evaluasi mikroenkapsulasi serta uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Eschericia coli. Rendemen ekstrak daun kapuk dalam persen diperoleh sebanyak 6,73%. Persentase yield mikrokapsul tertinggi pada formulasi 2 dengan pengadukan 90 menit yaitu 108,75%. Evaluasi organoleptik menunjukkan formulasi 3 (lama pengadukan 120 menit) berwarna hijau army dan memiliki aroma yang kuat. Formulasi 2 memiliki aktivitas antibakteri tertinggi terhadap bakteri Staphylococcus aureus sebesar 6,2 mm dan bakteri Escerichia coli dengan daya hambat 5,56 mm. Penelitian ini disimpulkan bahwa lama pengadukan 90 menit merupakan waktu pengadukan yang optimum untuk mikrokapsul Ceiba petandra L dan menunjukkan aktivitas penghambatan Staphylococcus aureus dan Escerichia coli paling tinggi.
</description>
<pubDate>Sat, 13 Jul 2024 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/269</guid>
<dc:date>2024-07-13T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Uji Aktivitas Antibakteri Obat Kumur (Mouthwash) Ekstrak Etanol 96% Daun Kemangi (Ocimum X Africanum Lour.) terhadap Streptococcus Mutans</title>
<link>http://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/268</link>
<description>Uji Aktivitas Antibakteri Obat Kumur (Mouthwash) Ekstrak Etanol 96% Daun Kemangi (Ocimum X Africanum Lour.) terhadap Streptococcus Mutans
Mahruroh
WHO (2022) memperkirakan bahwa hampir 3,5 miliar orang di seluruh dunia dipengaruhi penyakit mulut, 2 miliar orang menderita karies gigi permanen dan 514 juta anak menderita karies gigi sulung. Menjaga kesehatan gigi dapat dilakukan dengan penggunaan obat kumur yang mengandung antibakteri. Tumbuhan yang memiliki aktivitas antibakteri yaitu daun kemangi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan senyawa pada daun kemangi, melihat pengaruh penambahan konsentrasi ekstrak terhadap mutu fisik sediaan obat kumur, serta melihat pengaruh konsentrasi ekstrak 2,5%, 5%, 10% terhadap daya hambat bakteri Streptococcus mutans dengan metode kertas cakram (Paper disk). Metode ekstraksi yang digunakan yaitu maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Hasil skrining menunjukkan ekstrak daun kemangi mengandung senyawa flavonoid, tanin, saponin, alkaloid dan steroid. Berdasarkan hasil evaluasi sediaan maka penambahan ekstrak daun kemangi akan mempengaruhi warna, pH, viskositas, berat jenis dari sediaan. Hasil uji zona hambat diketahui bahwa F1 sebesar 7,15 mm, F2 sebesar 7,06 mm, F3 sebesar 7,41 mm, kontrol positif sebesar 3,38 mm, dan kontrol negatif sebesar 3,65 mm. Kesimpulan dari penelitian ini, bahwa daun kemangi mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan steroid. Karakteristik mutu fisik sediaan obat kumur sudah memenuhi persyaratan mutu fisik yang baik, serta F3 sebesar 7,41 mm menunjukkan konsentrasi yang optimum dalam penghambatan bakteri Streptococcus mutans.
</description>
<pubDate>Sun, 14 Jul 2024 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/268</guid>
<dc:date>2024-07-14T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Formulasi dan Uji Aktivitas Antioksidan Sediaan Clay Mask Ekstrak Etanol Daun Kopi Arabika (Coffea Arabica L.) Tahun 2024</title>
<link>http://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/267</link>
<description>Formulasi dan Uji Aktivitas Antioksidan Sediaan Clay Mask Ekstrak Etanol Daun Kopi Arabika (Coffea Arabica L.) Tahun 2024
Hakiki, Fitriatul
Indonesia memasuki periode aging population, dimana prevalensi kasus penuaan kulit di Indonesia dari 25,9 juta jiwa (9,7%) pada tahun 2019, menjadi 27,1 juta jiwa (9,99%), 42,1 juta jiwa (13,82%), diperkirakan terus meningkat pada tahun 2035 menjadi 48,2 juta jiwa(15.77%). Kejadian tersebut menyebabkan permasalahan kesehatan salah satunya ialah penuaan, termasuk didalamnya ialah penuaan kulit. Daun kopi arabika (Coffea arabica L.) memiliki potensi sebagai antioksidan dan mampu menangkal radikal bebas sebagai salah satu penyebab penuaan dini. Ekstrak etanol daun kopi arabika memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 19,856 ± 0,126 µg/mL. Tujuan penelitian untuk mengetahui evaluasi sediaan clay mask ekstrak etanol daun kopi arabika (Coffea arabica L.) dan mengetahui berapa daya aktivitas antioksidan sediaan clay mask ekstrak etanol daun kopi arabika (Coffea arabica L.) menggunakan metode DPPH. Ekstraksi menggunakan metode maserasi daun kopi arabika (Coffea arabica L.) dengan pelarut etanol 70% didapatkan rendemen 16%. Data skrining fitokimia dianalisis secara deskriptif menunjukkan hasil positif mengandung flavonoid, alkaloid, saponin dan tanin. Ekstrak diformulasikan dengan variasi konsentrasi yang berbeda yaitu 10% (formulasi 1), 15% (formulasi 2), dan 20% (formulasai 3). Berdasarkan evaluasi sediaan clay mask formulasi ketiganya memiliki hasil evaluasi yang sesuai dengan standart meliputi uji organoleptik, uji homogenita, uji pH, uji stabilitas, pada uji daya sebar, dan uji daya sebar diuji menggunakan analisa oneway ANOVA menggunakan aplikasi SPSS. Hasil uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH menunjukkan formulasi 2 yang paling kuat menangkal radikal bebas yaitu dengan hasil (AAI=2,432), formulasi 3 dengan hasil (AAI=3,079) dan formulasi 1 konsentrasi 10% dan hasil (AAI= 36,69). Disimpulkan bahwa dau kopi arabika memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat untuk menangkal radikal bebas.
</description>
<pubDate>Mon, 22 Jul 2024 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ibrahimy.ac.id/handle/123456789/267</guid>
<dc:date>2024-07-22T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
