| dc.description.abstract | Penelitian ini dilatarbelakangi oleh realitas kehidupan santri tahfidzul Qur‘an yang harus menghadapi berbagai tekanan, baik secara akademik, spiritual, maupun sosial. Tekanan tersebut menuntut adanya kemampuan adaptasi dan ketangguhan mental, atau yang disebut dengan resiliensi. Peneliti menduga bahwa dua faktor internal, yaitu regulasi diri dan religiusitas, berperan penting dalam membentuk resiliensi pada santri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara regulasi diri dan religiusitas dengan resiliensi, baik secara parsial maupun simultan. Lokasi penelitian dilakukan di Asrama Tahfidzul Qur‘an Pondok Pesantren Salafiyah Syafi‘iyah Sukorejo Situbondo dengan jumlah populasi sebanyak 205 santri. Sampel penelitian berjumlah 136 santri yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling. Instrumen yang digunakan berupa angket dengan skala Likert. Skala resiliensi mengacu pada Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) yang terdiri dari 25 item, skala regulasi diri mengacu pada Self Regulation Questionnaire (SRQ) dari Miller dan Brown yang terdiri dari 31 item, dan skala religiusitas mengacu pada Islamic Behavioral Religiosity Scale (IBRS) yang dikembangkan oleh Abou Youssef dkk., yang terdiri dari 30 item. Validitas dan reliabilitas dari ketiga skala telah diuji dan memenuhi syarat penelitian psikologis. Data dianalisis menggunakan uji regresi linier berganda setelah melalui uji asumsi klasik, seperti uji normalitas, linieritas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara regulasi diri dan religiusitas dengan resiliensi, baik secara simultan maupun parsial. Nilai signifikansi untuk kedua variabel berada di bawah 0,05, yang berarti hipotesis diterima. Selain itu, hasil koefisien determinasi (R²) sebesar 0,181 menunjukkan bahwa 18,1% variasi dalam resiliensi dapat dijelaskan oleh regulasi diri dan religiusitas. Temuan ini memberikan implikasi bahwa penguatan aspek regulasi diri dan religiusitas dalam pembinaan santri tahfidz sangat penting untuk membentuk pribadi yang tangguh, berkomitmen, dan konsisten dalam menyelesaikan hafalan Al-Qur‘an di tengah tantangan yang kompleks. | en_US |