| dc.description.abstract | Keberadaan ikan Kerapu Cantang di alam sangat terbatas dan bahkan tidak dapat ditemukan. Proses pembenihan Kerapu Cantang umumnya dilakukan hingga benih mencapai ukuran 2,5-3 cm. Namun, para petambak yang menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA) memerlukan benih yang berukuran di atas 10 cm. Hal ini karena penggunaan benih berukuran di bawah 10 cm memiliki tingkat kelangsungan hidup (SR) yang rendah. Oleh karena itu, diperlukan subsektor tertentu yaitu pendederan yang melakukan pembesaran benih dari ukuran 2,5-3 cm sehingga mencapai 10 cm atau lebih.
Dalam kegiatan Praktik Kerja Lapang ini, metode yang diterapkan adalah metode deskriptif. Metode ini dilaksanakan dengan mengamati aktivitas di lapangan untuk kemudian menarik kesimpulan melalui perbandingan antara fakta yang ditemukan di lapangan dengan referensi yang tersedia dalam literatur. Metode ini bisa digunakan untuk mendeskripsikan keadaan tertentu saja, atau juga untuk mendeskripsikan keadaan dalam tahapan perkembangan. Metode ini tidak dapat dimanipulasi atau terjadi variabel tertentu, karena pada metode ini menggambarkan suatu kondisi yang sesunguhnya di lapangan.
Hal terpenting dalam kegiatan pendederan ikan kerapu cantang adalah persiapan wadah budidaya atau kolam. Tahapan kegiatan pendederan meliputi persiapan bak atau wadah budidaya, sirkulasi air, suplai oksigen, pemberian pakan, penanggulangan penyakit, grading, dan panen. Berdasarkan pengalaman Praktik Kerja Lapang di Hatchery Gelung Mas, dapat disimpulkan bahwa proses pendederan benih Kerapu Cantang (Ephinephelus fuscoguttatus x Ephinephelus lanceolatus) mencakup beberapa tahapan penting, yaitu persiapan bak atau wadah budidaya, seleksi benih saat penebaran, pengaturan pakan, pengelolaan kualitas air, upaya pencegahan penyakit, kegiatan grading, serta proses panen. | en_US |