Pengalaman Guru Pendidikan Agama Islam dalam Implementasi Kurikulum Merdeka di SMA Ibrahimy 2 Sukorejo Situbondo
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, yang menuntut kreativitas, inovasi, dan kemampuan adaptasi tinggi agar pembelajaran relevan dengan kebutuhan peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam pengalaman guru PAI, baik keberhasilan maupun tantangan, dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka di SMA Ibrahimy 02 Sukorejo. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek penelitian terdiri dari guru PAI di SMA Ibrahimy 02 Sukorejo yang dipilih secara purposif sesuai keterlibatan langsung dalam penerapan Kurikulum Merdeka. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, sedangkan teknik analisis data menggunakan model interaktif Miles & Huberman melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI telah melaksanakan perencanaan pembelajaran dengan melakukan asesmen diagnostik dan menyusun modul ajar berdiferensiasi. Pelaksanaan pembelajaran dilakukan secara aktif dan inovatif melalui pemanfaatan media digital, proyek keagamaan, dan pembelajaran berbasis minat siswa. Evaluasi pembelajaran mencakup penilaian formatif, sumatif, dan refleksi rutin. Pengalaman positif yang dirasakan guru meliputi peningkatan kreativitas, fleksibilitas metode, dan antusiasme siswa. Kendala yang dihadapi meliputi keterbatasan fasilitas teknologi, kesulitan penerapan diferensiasi produk, serta kesiapan digital siswa yang belum merata. Strategi yang digunakan guru untuk mengatasi kendala antara lain memanfaatkan platform digital gratis, melakukan kolaborasi antarguru, serta memperoleh dukungan dari kepala sekolah dan orang tua. Secara umum, implementasi Kurikulum Merdeka di SMA Ibrahimy 02 Sukorejo berjalan efektif dan memberikan dampak positif terhadap dinamika pembelajaran, kreativitas guru, partisipasi siswa, serta budaya kolaboratif di sekolah.
