Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa melalui Metode Talking Stick pada Mata Pelajaran Fiqih Kelas XI7 MAN 2 Situbondo Tahun Pelajaran 2024/2025
Abstract
Penelitian ini dilatar belakangi oleh kurangnya keaktifan belajar siswa kelas XI MAN 2 Situbondo, utamanya pada mata pelajaran Fiqih. Hal ini disebabkan oleh beberapa kendala yang dialami pada saat proses pembelajaran berlangsung, salah satunya adalah metode yang digunakan oleh pendidik itu kurang tepat, sehingga siswa tidak maksimal dalam menerima materi yang dijelaskan dan diperlukan adanya metode yang cocok digunakan dalam materi Fiqih yang dipelajari, sebagaimana metode Talking stick yang diterapkan pada materi Fiqih sehingga peserta didik tidak hanya mendengarkan materi saja, tapi mereka juga bisa menyimpulkan dan memberi pendapat tentang materi tersebut dengan baik. Rumusan Masalahnya adalah Bagaimana penerapan metode Talking Stick pada mata pelajaran Fiqih di kelas XI7 MAN 2 Situbondo tahun pelajaran 2024/2025 serta Bagaimana peningkatan keaktifan siswa ketika menggunakan metode Talking Stick pada mata pelajaran Fiqih di kelas XI7 MAN 2 Situbondo tahun pelajaran 2024/2025. Penelitian ini mengunakan metodologi Penelitian Tindak Kelas (PTK) yang dilakukan sebanyak dua siklus yang setiap siklus terdiri dari empat tahapan, yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi, serta refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik pada kelas XI7 MAN 2 Situbondo dengan jumlah 22 siswa yang terdiri dari 15 laki-laki dan 7 siswa perempuan. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, wawancara dan dokumentasi yang didapatkan. Hasil data yang diperoleh dari pelaksanaan penelitian tindak kelas (PTK) ini bahwa pada pra siklus dengan persentase keaktifan belajar siswa sebesar 45%, pada siklus I persentase keaktifan belajar siswa sebesar 77% dengan jumlah siswa yang dikategorikan kurang aktif sebanyak 5 siswa dan 17 siswa yang dikategorikan aktif, sedangkan pada siklus II persentase keaktifan belajar siswa meningkat sebesar 90% dengan jumlah siswa yang dikategorikan aktif sebanyak 20 siswa dan 2 siswa yang dikategorikan cukup aktif. Dengan begitu peneliti merasa tidak perlu melanjutkan siklus untuk selanjutnya, karena sudah mencapai target minimal yakni 78%.
