Hubungan antara Self-Esteem dengan Kecenderungan Body Dysmorphic Disorder (BDD) pada Remaja Akhir di SMA Ibrahimy 2 Sukorejo
Abstract
Self-esteem didefinisikan sebagai persepsi individu terhadap nilai dirinya, yang mencakup perasaan penghargaan terhadap diri sendiri dan keyakinan terhadap kemampuan pribadi. Sementara itu, Body Dysmorphic Disorder (BDD) merupakan gangguan mental yang ditandai dengan kekhawatiran berlebihan terhadap penampilan fisik, khususnya pada kekurangan yang tidak nyata atau sangat kecil, sehingga menimbulkan penderitaan emosional dan perilaku kompulsif. Remaja akhir, yang dalam konteks penelitian ini berada pada rentang usia 17–18 tahun, merupakan tahap perkembangan kritis yang ditandai oleh meningkatnya kesadaran terhadap citra tubuh dan tekanan sosial mengenai standar kecantikan. Pada masa ini, individu cenderung lebih rentan mengalami ketidakpuasan terhadap penampilan fisik, sehingga berisiko mengalami kecenderungan BDD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-esteem dan kecenderungan Body Dysmorphic Disorder (BDD) pada remaja akhir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 257 siswi kelas XI yang dipilih secara acak dari beberapa kelas. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen berupa kuesioner tertutup yang didistribusikan secara luring (offline). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara self-esteem dan kecenderungan BDD (r = -0,880, p < 0,001). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat self-esteem seseorang, semakin rendah kecenderungan terhadap BDD, dan sebaliknya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang kuat dan signifikan antara selfesteem dan kecenderungan BDD pada remaja akhir.
